Hari itu, Jumat
tanggal 11 April 2008, ringtone Gema
Takbir di Hari Raya-nya Raihan dari Hp-ku terdengar nyaring. Ada panggilan dari unknown number, kode wilayahnya Jakarta. Dalam hati aku berdoa: semoga dari HRD salah satu
perusahaan tempat aku melamar kerja!
W: Assalamu’alaikum
X: Wa’alaikum salam, dengan ibu
Kusumastuti Rahmawati?
W: Iya benar…
X: Saya Ibu Veni dari Sekolah
Alam Citra Alam Ciganjur Ibu. Kami mengharapkan kehadiran Ibu untuk tes micro
teaching hari Kamis tanggal 17 April jam 9.30 sampai jam 10.40
W: (Menahan rasa bahagia) Oh, iya
baik…
X: Ibu harap mempersiapkan diri,
materi yang harus disampaikan adalah Pelajaran Fisika dengan materi Kalor dan
Perpindahannya kelas IV dengan bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Bisa Ibu?
W: Iya, insyaalloh bisa.
Percakapan via gelombang elektromagnetik itu pun berakhir dengan salam
Giliran aku tertegun. Teringat sebulan yang lalu, hari Selasa, 11 Maret
2008 (di hari yang sama 32 tahun yang lalu UNS berdiri…) Kak Veni juga
telpon, in English conversation, intinya aku disuruh datang ke Sekolah Alam
Ciganjur (hereinafter we call it SAC) untuk tes wawancara. Kak Veni is the Head
master of this Nature School.
Sebulan berlalu dari tes pertama. Dulu saat mewawancaraiku di tes pertama, Mr.
Teguh bilang (Mr. Teguh adalah semacam HRD-nya SAC), mereka butuh waktu sekitar
1-2 minggu untuk menentukan applicant mana yang akan dipanggil untuk tes kedua.
Karena sudah lebih dari sebulan maka penyakit hopeless itu muncul begitu saja
di hatiku. Ah, mungkin belum rezekiku. Eh, ga tahunya, tak disangka-sangka, aku
dipanggil lagi! Alhamdulillah, harapan tumbuh kembali. Impian untuk mengajar
Fisika bareng anak-anak di sekolah yang keren dan unik terbayang lagi.
Maka perjuangan dimulai. Karena MT-nya (Micro Teaching) dalam bahasa
Inggris, aku mulai browsing, mencari materi Heat and It’s Transmission atau
Heat Transfer. Lalu dapet pinjaman buku Fisika SMP-nya baru hari Rabu, dari
Yai, anak Karisma Al Ikhlas dari RT 05 yang sebentar lagi akan maju perang di
Olimpiade Kimia bulan Mei atau akhir April ini (maaf Yai, mbak Rahma lupa lagi
^_^). Dari tanggal 11 sampai 17 ada waktu 5 hari efektif untuk persiapan
sebenarnya. Tapi yang benar-benar kumanfaatkan untuk persiapan adalah hari Rabu
sampai Kamis paginya. Biasaaa…kebiasaan SKS (Sistem Kebut Semalam) ala jaman
kuliah masih setia ngendon di kepala, hehehe…. Takbela-belain bikin alat
percobaan sendiri Kamis pagi itu. Alat untuk menunjukan perpindahan kalor
secara konveksi itu kubuat dari kardus Mpek-mpek bekas oleh-oleh dari
Prabumulih, dilubangi di dua sisi bagian atas, disambung dengan gelas VIT bekas
(untungnya aku masih punya hobi merawat barang-barang bekas yang kira-kira bisa
dimanfaatkan ^_^). Kita sebut saja alat percobaan buatanku ini dengan nama
Kotak Konveksi. Taraaaaat…!!!!
Pagi sebelum berangkat, kami (aku en Yangkung) mencoba alat itu. Kami menyalakan
lilin di dalam kotak mpek-mpek di bawah sebuah lubang dan mendekatkan kertas
yang berasap (sebelumnya dibakar dahulu) di lubang yang lainnya lagi. Kalau
idealnya di dalam buku, asap dari kertas itu akan masuk lewat lubang pertama
yang ada di dekat kertas berasap tadi lalu keluar lewat lubang kedua di atas
lilin. Tapi apa yang terjadi? Itu asap malah berkumpul dan bergulung-gulung
saja di dalam kardus Mpek-mpek. Ealaaah, iki piye to kok ra dadi-dadi
percobaane? Opo buku-buku pakete do ngapusi??? Kami coba berbagai kombinasi
percobaan tetap saja belum sempurna seperti yang diperlihatkan di buku paket
Fisika. Ih, gemeeesssss…
Waktu semakin mepet. Pengalaman pertama kami butuh waktu 2 jam hingga SAC.
Tes MT dimulai jam 9.30. Maka jika ingin ada waktu ekstra untuk persiapan kami
harus berangkat 2,5 jam sebelumnya, berarti jam 7! Aku belum apa-apa! Segera
aku kemas-kemas dibantu Yangkung. Terpaksa aku tetap membawa Kotak Konveksi itu
ke SAC. Demi menghargai perjuanganku yang sudak capek-capek membuatnya. Siapa
tahu nanti di Ciganjur ada keajaiban terjadi.
Mau tahu bagaimana rasanya perjalanan dari Rawalumbu Bekasi hingga lokasi
SAC di Ciganjur, Jakarta Selatan? Sungguh jauh dari nyaman!!! Jalan terpendek
dari Bekasi ke Jakarta Selatan adalah lewat Jalan Raya Kalimalang, yaitu
satu-satunya jalan penghubung Bekasi dengan Jakarta Timur. Jalan Raya
Kalimalang terbentang sepanjang kurang lebih 13 Km (kuukur dari peta Jabotabek
berskala 1:70.000 dengan benang, kalo salah, salahkan petanya ya ^_^) sejajar
dengan sungai buatan Kalimalang. Sungai ini adalah sumber air PDAM. Limbah
domestik dilarang masuk ke sungai ini. Tapi ya pastinya ada orang-orang yang melanggar peraturan. Separo kanal ini
masuk ke daerah administrasi Bekasi, separo yang lain masuk Jakarta Timur.
Jalan Kalimalang tak pernah nggak macet. Jalannya rusak pula.
Sebagai lulusan Teknik Sipil, aku benar-benar prihatin dengan kondisi jalan
satu ini. Paling tidak ada tiga koreksi besar yang sebaiknya segera
diperhatikan PU Bekasi maupun Jakarta Timur.
1. Geometri jalan jauh dari mencukupi. Setiap
ruas dari jalan yang lebarnya maksimalnya 15 m (lebar jalan tidak tetap) itu
kepayahan dijejali puluhan kendaraan bermotor perdetiknya. Macet sudah
langganan di sini. Jangankan di jam-jam puncak (peaktime), di
jam-jam biasa pun jalan ini tetap penuh. Wajar mungkin mengingat ini jalan
utama penghubung Bekasi dan Jakarta Timur.
2. Rekayasa lalu lintasnya belum maksimal. Untuk jalan sepanjang ini, selurus ini,
seharusnya lalu lintas bisa lancar. Masalahnya ada beberapa titik percabangan
yang arusnya cukup padat. Misalnya titik potong jalan Kalimalang dengan jalan
menuju ke Kawasan Industri Pulogadung, atau dengan jalan ke arah Jati Bening,
atau ke Pondok Gede. Sebagian besar dari itik-titik perpotongan itu tidak
dilengkapi dengan lampu merah. Ditambah dengan tidak tertibnya kuasi-kuasi
(angkot) yang parkir seenaknya di pinggir jalan sehingga badan jalan efektif semakin
sempit. Jarang terlihat ada petugas Kepolisian yang turun lapangan untuk
membantu memperlancar jalan.
3. Drainase jalan kacau. Ada sebagian ruas
jalan Kalimalang yang memiliki median selebar setengah meter di tengah jalan.
Median kecil seperti ini sering dibangun di jalan-jalan ramai untuk mencegah
pencaplokan jalur oleh jalur yang lain. Dengan adanya median, mau tidak mau
kendaraan harus berada di jalur yang seharusnya, tidak bisa main serobot
seenaknya saja. Median
seperti ini juga bisa kita temui di Jalan Ahmad Yani yang cukup ramai di Solo.
Kembali ke jalan Kalimalang, keberadaan median itu ternyata membuat air dari
jalur timur tidak bisa mengalir ke Kalimalang, sementara sisi utara jalan
elevasinya lebih tinggi dari badan jalan. Akibatnya jalur timur selalu terendam
air cukup lama jika hujan tiba. Padahal air adalah musuh utama aspal. Sudah
bisa ditebak bagaimana akibatnya. Dengan beban lalu lintas yang melebihi
kemampuan, ditambah dengan lemahnya aspal karena terendam air terus-menerus,
akhirnya jalur timur dari jalan Kalimalang hancur, lubang-lubang menganga
begitu dalamnya, mulai dari POM bensin LIA hingga perempatan Galaxy. Pecahan
batu kali yang sebelumnya menjadi lapisan dalam macadam mencuat di mana-mana.
Saya akan menuliskan lengkap tentang jalan
Kalimalang ini lengkap dengan alternatif-alternatif solusinya di artikel
berikutnya Insyaalloh. Lepas dari jalan Kalimalang jalan seterusnya adalah
jalan raya yang panas, bising, penuh dengan asap yang mungkin banyak mengandung
gas CO (hasil pembakaran tidak sempurna BBM), dan kompetisi ugal-ugalan dari
setiap kendaraan, pengen menang sendiri (termasuk Yangkung ^_^).
Satu setengah jam duduk di motor bikin badan
pegal. Jam sembilan kami tiba di halaman SAC. Aku menghubungi Kak Veni. Tak
lama kemudian Kak Veni muncul menyambutku. Postur tubuhnya mengingatkanku pada
Mama Ochi, tetangga depan rumah di Rawa Lumbu. Agak gemuk dan tinggi besar.
Berjilbab, bercelana panjang.
Ternyata kak Veni lupa jika hari itu anak kelas
tujuh ada pelajaran berenang. Terpaksa MT-nya diundur hingga jam 10:30.
Kemunduran ini kusyukuri. Aku masih harus menyiapkan beberapa alat percobaan
dan review materi yang akan diberikan. Aku menyiapkan kompor spiritus, kaki
tiga, kasa kompor, termometer, dan gelas kaca di lab SAC. Waktu masih panjang.
Aku belum sarapan. Aku ijin makan di warung di mana Yangkung sedang duduk
menungguku sambil mengetik di laptop. Aku makan nasi sedikit (prasmanan) lauk
ayam goreng plus sambal plus segelas teh anget. Mahal. Lima ribu segitu. Di Solo 3,5 ribu aja sudah
lebih kenyang en lebih lezat.
Akhirnya waktu mengajar tiba. Sebelum masuk kelas,
Yangkung wanti-wanti: “Hati-hati, anak-aak habis renang pastinya capek dan
ngantuk.” Aku mengangguk. Aku optimis akn bisa mengendalikan kelas dengan
baik. Kak Veni memanggilku. Aku masuk kelas. Hmmm, lihatlah anak-anak itu.
Jumlahnya hanya 9 orang. Dua putri tujuh putra. Seperti biasa, setiap kelas di
setiap sekolah di semua kota di semua negara selalu terbagi menjadi tiga
golongan: para siswa teladan, tukang pembuat onar, dan golongan medium. Begitu
masuk saja sudah kelihatan siapa si siswa teladan dan siapa si tukang pembuat
onar. Dua yang putri terlihat
kalem dan pendiam. Merekalah golongan medium.
Sebelum berangkat aku sudah membayangkan suasana
belajar yang bergairah dan penuh semangat keingintahuan anak-anak. Aku
membayangkan mereka dengan antusias mengikuti petunjuk demi petunjuk yang
diberikan saat percobaan dilaksanakan. Aku membayangkan celotehan riang dan
agresif mereka sebagaimana yang kubaca di website SAC.
Tapi kenyataannya tak seindah bayanganku.
Mereka tampak lesu, ogah-ogahan. ‘Hati-hati
Watik, mereka anak-anak dari golongan berada yang biasa terpenuhi semua
keinginannya’, begitu pikirku. Di awal kuajak mereka bermain tepukan.
Selanjutnya percobaan dimulai. Golongan siswa teladan cukup membantu. Tapi sang
pembuat onar benar-benar membuat hatiku jengkel. Susah diatur, susah
diingatkan… Sementara golongan medium pasif sama sekali. Mereka tidak mau
bergabung dengan kelompok yang telah dibuat. Berdasar perhitungan kekuatan,
2:1, golongan siswa teladan kalah dominan dibanding golongan medium yang sama
tidak membantunya dengan golongan pembuat onar.
Ada beberapa faktor yang membuat kelas kurang
bergairah.
1. Bahasa pengantar Inggris membuat mereka
kurang begitu faham dengan apa yang ingin kusampaikan. Walaupun sudah kuberi
terjemahannya berkali-kali, mereka sedikit terhambat dengan komunikasi bahasa
Inggris ini. Hanya golongan siswa teladan yang mau bertanya beberapa kali jika
mereka menemukan kalimat yang susah difahami.
2. Kondisi bahwa mereka baru saja berenang.
Dulu di Solo, aku dan adik-adik kosku paling tidak sebulan sekali renang di
Kolam Renang Tirtomoyo Solo. Habis renang rasanya pengen rebahaaaan aja. Kalau
perlu tidur sekalian. Capek. Aku pernah mendengar di televisi, renang adalah
olah raga yang paling baik untuk membakar kalor di semua bagian tubuh. Dan itu
yang dirasakan anak-anak kelas VII SAC ini. Golongan pembuat onar sejak awal
sudah terlihat malas-malasan. Ada yang hobi meletakkan kepalanya di meja dengan
malas dan tidak menghiraukan apa yang kukatakan. Ouw, sedihnya…
3. Kenyataan bahwa hanya orang-orang berada
yang bisa menyekolahkan putra-putrinya di SAC. Aku baca di websitenya, bea
masuk untuk SMP jauh lebih mahal daripada Sumbangan masuk UGM. Biaya semesterannya juga lebih mahal SAC
daripada kuliahku di UNS dulu. Stereotip yang masih berlaku (paling tidak di
kepalaku sendiri ^_^) adalah bahwa mayoritas anak orang kaya cenderung manja
dan tidak terbiasa bersusah-susah dalam hal apa saja. Sehingga di kondisi capek
seperti saat itu, mereka maunya istirahat dan istirahat.
4. Mereka tahu bahwa aku adalah calon Kakak
baru – mereka memanggil guru dengan sebutan kakak karena memang semua
gurunya masih muda-muda – yang sedang dites. Selalu terbetik keinginan untuk
sedikit ngerjain dan mempersulit guru-guru baru yang sedang tes microteahing di
hadapan kita, bukan? Aku dulu pas SMA juga begitu. Padahal di kelas aku
kayaknya termasuk golongan siswa teladan lho, hehehe…
Jadi begitulah. Perencanaan waktu gagal terlaksana. Dari tiga materi yang
seharusnya sudah dikuasai dalam satu kali pertemuan, mencakup pemahaman tentang
koduksi, konveksi, dan radiasi, hanya materi konduksi yang tersampaikan. Waktu
habis untuk mengendalikan para siswa pembuat onar, memotivasi keaktifan dan
partisipasi nona-nona golongan medium, dan translet bahasa.
Dan yang paling menyedihkan adalah kotak konveksi yang sudah kubuat
susah-susah belum sempat digunakan sama sekali! Hiks…
Tapi seneng lho, dapat pengalaman baru. Masalah nanti dipanggil atau enggak
kita lihat saja besok. Apa yang Alloh suka aja deh… Sukron jazakillah sudah
mau baca ceritaku ini. Ditunggu masukan dari teman-teman semua ya!