MEMASUKI KEHAMILAN 9 BULAN

February 25th, 2009 by kusumastuti

Wah, terakhir cek babyku baru 2375 gram. Dokter bilang aku harus mbanyakin makan. Memang aneh aku ini. Saat orang-orang makan banyak ketika hamil, aku biasa-biasa saja makannya. Dalam pengamatanku ada fenomena menarik dari karakter kehamilan wanita. Dulu waktu hamil muda, ngidamku nggak terlalu berat. Muntah juga cuma dua kali. Masih bisa shoum Ramadhan. Mualnya cuma sekitar 1-2 bulan. Tapi setelah masa ngidamnya usai, selera makanku tak kunjung membaik. MEmang perut jadi gampang lapar dan terasa panas. Tapi itu tudak membuat nafsu makanku bertambah banyak. Porsinya sama saja. Sehingga nggak heran kalau sampai hamil ke 9 bulan ini berat badanku hanya naik 7 kg. Sedangkan Ibu-ibu lain yang mengalami ngidam berat di awal-awal hamilnya, sampai muntah darah, bedrest, bibir pecah-pecah, dll, akan memiliki selera makan yang baik sekali di kehamilan trimester kedua dan ketiga. Berat badan mereka bisa naik hingga 20 kg!

Oke deh, Umi akan mencoba makan lebih banyak buat ade. Biar gedean dikit ade ntar.

Mohon doanya, semoga kelahiran lancar. Terakhir USG masih terlihat satu lilitan tali pusar di leher janin. Mudah-mudahan masih bisa pindah itu tali. Siapa sih yang nggak pengen kelahiran normal dan lancar???

Akhirnya, mari mudik. Ntar TTL anakku: Yogya, …..2009, hehehe

NGOBROLIN BANGSA YAHUDI

February 25th, 2009 by kusumastuti

 

Wahai bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini.”

(QS Al Baqarah 2:47)

 

Agresi militer Israel yang dilakukan secara membabi buta di bumi para nabi Palestina membuat banyak orang luar biasa geram pada Israel. Sebagian dari kita bertanya-tanya, sudah hilangkah syaraf kemanusiaan di hati mereka? Apakah seluruh warganya terdiri dari orang-orang psikopat yang hobi membunuh manusia untuk kepuasan hati? Mengapa ‘negara jadi-jadian’ seperti Israel bisa menjadi negara yang cukup diperhitungkan di dunia?

 

Berbicara tentang Israel tidak bisa lepas dari etnis Yahudi. Ras Yahudi adalah pendiri ‘negara’ Israel. Selama eksisnya, bangsa Yahudi telah banyak mengalami berbagai peristiwa. Dalam website Arrahmah, saya membaca bahwa sejarah Yahudi dimulai sejak Nabi Ibrahim dengan dua putranya Ismail dan Ishak. Ismail diperoleh dari Siti Hajar, wanita mesir yang diberikan seorang raja Mesir sebagai hadiah bagi Ibrahim. Sedangkan Ishak didapatkan dari Siti Sarah, istri pertama Ibrahim. Dari Ismail muncul ras Semith (Arab) sedangkan dari Ishak muncul ras Israel yang keturunannya berlanjut hingga Nabi Musa dan Nabi Isa.

 

Lantas apa rahasia kecerdasan mereka? Berikut saya kutipkan sebuah artikel dari sebuah milist yang diedarkan via facebook:

 

Mengapa Orang yahudi banyak yang pintar ?
Oleh Chappy Hakim - 5 Februari 2009 - Dibaca 1426 Kali -

Tanpa bermaksud untuk mendramatisasi tentang orang Israel dan atau orang Yahudi, saya ingin berbagi informasi yang saya peroleh dari membaca terjemahan H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru besar berkebangsaan  Malaysia) dari Universitas Massachuset USA tentang penelitian yang dilakukan oleh DR.Stephen Carr Leon.   Penelitian DR Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi.

Mengapa Orang Yahudi, rata-rata pintar ?   Studi yang dilakukan mendapatkan fakta-fakta sebagai berikut :

Ternyata, bila seorang Yahudi Hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik.   Tidak itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika.   mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya.   Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih didalam kandungan.

Setelah anak  lahir, bagi sang ibu yang menyususi bayi nya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu.   Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad.   Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena  mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak.   Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (code oil lever).

Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan.   Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan,karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan.  Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging , hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi.   Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja.

Yang istimewa lagi adalah : Di Isarel, merokok itu tabu !   Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi “gen” atau keturunannya.  Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh” atau “dungu”.   Walaupun, kalau kita perhatikan , maka penghasil rokok terbesar di dunia ini adalah orang Yahudi !   Tetapi yang merokok , bukan orang Yahudi.

Anak-anak, selalu  diprioritaskan untuk makan buah dulu baru makan nasi atau roti dan juga tidak boleh lupa untuk minum pil minyak ikan.   Mereka juga harus pandai bahasa , minimum 3 bahasa harus dikuasai nya yaitu Hebrew, Arab dan bahasa Inggris.   Anak-anak juga diwajibkan dan dilatih piano dan biola.   Dua instrument ini dipercaya dapat sangat efektif meningkatkan IQ mereka.   Irama musik terutama musik klasik dapat menstimulasi sel otak.   Sebagian besar dari musikus genius dunia adalah orang Yahudi.  

Satu dari 6 anak Yahudi, diajarkan matematik dengan konsep yang berkait langsung dengan bisnis dan perdagangan.   Ternyata salah satu syarat untuk lulus dari Perguruan Tinggi bagi yang Majoring nya Bisnis, adalah, dalam tahun terakhir, dalam satu kelompok mahasiswa (terdiri dari 10 orang), harus menjalankan perusahaan.   Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya mendapat untung 1 juta US Dollar.   Itulah sebabnya, maka lebih dari 50 % perdagangan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi.   Design “Levis” terakhir diciptakan oleh satu Universitas di Israel, fakultas “business and fashion”.

Olah raga untuk anak-anak, diutamakan adalah Menembak, Memanah dan Lari.   Menembak dan Memanah, akan membentuk otak cemerlang yang mudah untuk “fokus” dalam berpikir !

Di New York, ada pusat Yahudi yang mengembangkan berbagai kiat berbisnis kelas dunia.   Disini terdapat banyak sekali kegiatan yang mendalami segi-segi bisnis sampai kepada aspek-aspek yang mempengaruhinya.   Dalam arti mempelajari aspek bisnis yang berkaitan juga dengan budaya bangsa pangsa pasar mereka.  Pendalaman yang bergiat nyaris seperti laboratorium, “research and development” khusus perdagangan dan bisnis ini dibiayai oleh para konglomerat Yahudi.   Tidak mengherankan bila kemudian kita melihat keberhasilan orang Yahudi  seperti terlihat pada : Starbuck, Dell Computer, Cocacola, DKNY, Oracle. pusat film Hollywood, Levis dan Dunkin Donat.

Khusus tentang rokok, negara yang mengikuti jejak Israel adalah Singapura.   Di Singapura para perokok diberlakukan sebagai warga negara kelas dua.  Semua yang berhubungan dengan perokok akan dipersulit oleh pemerintahnya.   Harga rokok 1 pak di Singapura adalah 7 US Dollar, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya berharga  70 sen US Dollar.   Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh peneliti Israel , bahwa nekotin hanya akan menghasilkan generasai yang “Bodoh” dan “Dungu”.

Percaya atau tidak, tentunya terserah kita semua.   Namun kenyataan yang ada terlihat bahwa memang banyak sekali orang yahudi yang pintar !   Tinggal, pertanyaannya adalah, apakah kepintarannya itu banyak manfaatnya bagi peningkatan kualitas hidup umat manusia secara keseluruhan

 

CIVIL HOMESICK

September 15th, 2008 by kusumastuti

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Tanpa bisa kucegah, aku mengalami Civil Homesick, istilah yang kubuat sendiri untuk menyebut kerinduanku pada bidang kuliahku dulu. Aku rindu mengutak-atik angka yang memusingkan kepala itu. Aku rindu merekayasa struktur. Aku rindu bermain-main profil bangunan dengan SAP 2000.

Tapi hari itu, 1 September 2008 pukul 20:37, aku mendapat SMS curhat dari adik tingkatku, Joe.

J : aslmkmwrwb Rosululloh bersabda “barangsiapa melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tanganmu,apabila tdk bs mk ubahlah dg lisanmu, apabila tdk bs maka cukukplah htmu tuk mengingkari kemungkaran itu. Sesungguhnya ini adalah selemah-lemahnya iman (HR Bukhori) Mbak mau tanya bagaimana menyikapi hal itu? Nuwun

Aku belum faham apa yang dia maksudkan. Maka kubalas:

W :Menyikapi apanya Joe?

Dia menjawab lagi:

J :Aslmkmwrwb… Gini Mbak kdg ak melihat di proyek praktek2 yang tidak sesuai dg hati nurani. Terus aku hubungkan dg hadits yang aku kirim ke mbak td malam. Maaf mbak…jika mbak bisa memberikan masukan ak sangat senang. Nuwun.

Satu lagi keluhan dari insinyur Sipil yang resah dengan ’kotornya’ proyek sipil! Ini bukan yang pertama. Sudah puluhan kali aku mendengar curhat yang sama dari temen-teman yang terjun ke proyek langsung…

W :Yap, betul sekali! Itu masalah klasik Jo. Kalo kuat ya tetaplah bekerja. Saat ini di luar kuasamu utk mengubah keadaan.jika suatu saat kau punya wewenang untuk melawannya ya harus lawan.jk tidak kuat tirulah pak ari setyawan, bu ami, bu siti komariyah, yi cari beasiswa S2 ke luar negeri trus jadilah dosen teladan.

Aku mencoba menjawab pertanyaannya dengan jawaban serupa yang disampaikan seorang dosen ikhwan, penasehat spiritualku di proyek kampus, saat dulu aku pernah menanyakan perkara yang sama…

J :Aku pengin melawan tapi apa daya mbak saat ini aku cuma bawahan blm punya wewenang T_T aku takut mbak hasili keringatku tidak berkah…Trs kalo aku dihdapkan seperti ini terus hubungannya dengan surat arrahman “…lalu nikmat tuhanmu yg mana yang kamu dustakan? Maaf Mbak kalo banyak tanya.

W :Aku juga dilematis,gbs kasih jawaban konkret.coba tanya yang ada di situasi sama denganmu ya.

Akhirnya hanya jawaban mengambang yang bisa kuberikan pada Joe. Terbersit kekaguman atas kepekaan Joe terhadap kemungkaran-kemungkaran di proyek. Aku jadi ingat dengan teman-temanku yang lainnya. Apakah mereka sama gelisahnya dengan Joe? Pur, Irfan yang di WIKA, Galang yang di PP, Sis yang di Infratekno… Beberapa dari mereka pernah mengeluhkan hal yang sama.

Kebohongan di dunia proyek Sipil ibarat debu pada ban. Kotor tapi akan selalu ada. Itu sudah tersistem, membudaya, dan berakar kuat di dunia Sipil. Setahun kerja di proyek memberiku pengalaman nyata betapa ‘berbohong’ demi kelancaran proyek adalah hal ‘setengah wajib’. Berbekal dari itulah, dulu sebelum menikah aku berazam dalam hati tidak mau mendapat suami yang kerja di proyek Sipil (kontraktor). Maaf bukan maksud saya mengeneralisir bahwa semua orang Sipil suka curang. Saya hanya tahu bahwa hampir semua dunia kontraktor seperti itu dan sudah tersistem, sehingga aku khawatir penghasilan yang didapat dari kerja jadi tidak berkah karena selalu terciprat, baik sengaja maupun tidak sengaja, uang hasil dari mark-up-mark-up yang tidak jelas dan semacamnya. Alhamdulillah, Alloh mengabulkan harapanku. Suamiku bukan orang proyek Sipil!

Tapi aku tetap rindu pada dunia Sipil sehingga aku tidak kuasa menolak panggilan tes dari Indostraits siang itu. Aku sepakat datang sabtu. Tapi ternyata Sabtu aku sudah berjanji datang di acara yang lain sebelumnya sehingga aku tidak jadi datang. Ternyata Senin aku dipanggil lagi. Nampaknya HRDnya tertarik melihat CV-ku. Karena telah berkali-kali menulis surat lamaran aku berhasil membuat CV yang ‘memukau’. Maka Senin itu juga aku bersama Mas diantar ke Sunter, di Gedug Graha Kirana lantai 15 untuk tes sebagai Civil Engineer. Hehe, dari awal aku sudah tidak percaya diri. Hampir dua tahun aku tidak menyentuh soal2 Sipil itu. Terakhir tes Sipil di PP menunjukkan dengan gamblang bahwa Sipilku mentah bin mental, menguap entah kemana. Begitu juga Senin itu. Aku diberi 6 soal berbahasa Inggris dengan materi yang mirip materi kuis-kuis yang dulu sering diberikan dosen-dosenku. Sering, tapi sayang aku tetap lupa. Akhirnya dengan hasil yang jauh dari maksimal aku menyelesaikan tes itu. Hasilnya ketika dikooreksi Engineer seniornya, tidak satupun jawabanku yang tepat sesuai. SAPnya pun salah. Kayaknya aku benar-benar sarjana sipil gadungan! Hehehe, maafkan aku wahai dosen-dosenku… Aku adalah anak didikmua yang gagal ^_^ …Tapi walau harapan diterima hampir 0%, mereka tetap mewawancaraiku lagi dan lagi hingga aku merasa aku akan diterima benar di Indostraits. Wawancara pertama dengan seorang Civil Engineer senior, Pak Zul, lulusan ITB. Beliau bertanya banyak hal dan cukup detail, termasuk transport dari Bekasi ke Graha Kirana, hingga nego gaji. Dalam hati aku bertanya-tanya, yang bener aja udah ditanyain gaji? Keterima juga belum?! Dari beliau aku tahu jam kerja di Indostraits adalah jam 8.30 hingga 17:00. Tapi kata pak Zul, satu hal yang amat langka bagi engineer bisa pulang tepat jam 5. Bisa pulang jam 6 sore sudah termasuk cepet! Terus, hari kerja sampai Sabtu. Selang-seling Sabtu sekarang on, Sabtu minggu depan off. Aku jadi teringat dengan anak di rahimku. Jika aku kerja seharian begitu, siapa yang akan mengasuhnya? Relakah kupercayakan bayiku hampir sehari penuh kepada khadimat? Lantas Pak Zul mengatakan lagi bahwa tidak ada overtime di perusahaan itu. Semua berdasar loyalitas . Perusahaan hanya menjamin kesehatan karyawan. Ih, dibandingin sama tempat suamiku kerja, perusahaan ini tergolong sadis! Mungin karena pemiliknya orang Singapura kali… Wawancara kedua dan yang terakhir dengan HRD-nya. Hmmm, tidak akan pernah kulupa wawancara terakhir dengan Mrs. Grace, the HRD, yang dengan sangat berhati-hati mengatakan secara halus bahwa tradisi di perusahaan itu adalah tidak ada karyawan berjilbab walaupun tidak ada peraturan yang tegas melarangnya. “Hmmm, kalau bukan peraturan tegas, ya it doesn’t matter to?! Saya akan tetap pake…” Begitu jawabku.

Ah, Sipilku, seperti buah simalakama, aku benci tapi rindu….

Bintang Pelajar Memberi Arti

September 15th, 2008 by kusumastuti

Di Bintang Pelajar aku menemukan sebuah potret kehidupan anak para borjuis. Biaya masuk Bintang Pelajar yang bisa mencapai 6 jeti otomatis menjadi penyaring dan membatasi kelas BP. Kulihat di sana anak-anak Al Azhar, SMA 3, SMA 21, dan lain-lain dengan HP model mutakhir, obrolan kelas atas, dan badan-badan penuh gizi. Jika pulang naik angkot potret terbalik dari anak-anak BP terpampang. Para pengamen beraksi, dengan rambut kusam, badan kurus, kulit terbakar matahari, para pengemis yang berjajar di trotoar menanti uluran tangan, para pedagang asongan yang sabar menanti rupiah… Masyaalloh, „“Innallaha yabsuturrizqa liman yasyaau wayaqdir“ (Sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendakinya dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakinya). Terbayang kembali di otakku, masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz Allahuyarham, di mana di saat itu pemerintah Islam kebingungan mencari penerima zakat karena semua warga telah merasa cukup dan tidak berhak atas harta lebih yang akhirnya disalurkan ke Badan Amil Pemerintah Islam saat itu. Wow…betapa indahnya jika itu terjadi di sini sekarang…

 

Setiap jengkal langkah senantiasa membawa makna baru dalam hidupku. Dan tidak pernah ada waktu cukup untuk menuliskannya secara lengkap di buku. Alhamdulillah Alloh memberiku otak yang mampu menjadi chip dengan memori entah berapa Megabytes untuk mencatat dan menyimpan semua makna kehidupan yang terjalani. Rabbanaa maakhalaqta hadzaa baathilaa, subhaanaka faqinaa ‚adzaa bannaar… (Tuhanku, tidaklah Engkau ciptakan segata sesuatu di dunia ini dengan sia-sia, maka peliharalah kami dari siksa api neraka…)

Semalam di Lapas Tangerang

July 4th, 2008 by kusumastuti

Waaaah, masuk lapas? Bayangan yang aneh-aneh seidkit menghantui kepalaku saat Kak Hikmah mengajakku ikut ke Sanlat di Lapas Putri Tangerang. Gambaran napi-napi brutal, tatoan, lesbian, dsbg berputar-putar di angan.

Tapi ternyata mereka jauh dari yang kubayangkan. Lembut-lembut, cakep-cakep, feminim. Ada sih dua napi yang sudah dipanggil mas boy sama temen-temennya dan diindikasikan lesbi. Tapi yang lain biasa saja. Jauh dari kesan menyeramkan.

Setelah saring aku tahu dari mereka bahwa mayoritas mereka berasal dari keluarga broken home. Hanya sedikit yang berasal dari keluarga baik-baik. Ini berlaku untuk napi remaja (Andik: Anak Didik). Karena tidak mencukupi, napi dewasa terapaksa ditempatkan di lapas ini juga. Kebanyakan dari mereka terjerat kasus narkoba. Tapi ada juga yang melakukan pembunuhan. Yang melakukan kasus pembunuhan ini benar-benar jauh dari penampilan pembunuh. Anaknya cantik, ceria, dan lembut. Masyaalloh… Dia membunuh bayi, anak pamannya, hanya gara-gara dia iri mengingat dirinya tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya sebagaimana halnya si bayi itu.

Ck..ck…ck…

Ada buanyak sebenarnya kisah yang bisa diurai. Itu baru satu kisah saja.
Yang jelas, semua membuat kami semakin menyadari betapa  Alloh telah memberi kita nikmat luar biasa besar berupa keluarga yang penuh kasih sayang dan cinta… Di mata mereka itu adalah barang langka. Super langka. Jadi masih kurang bersyukur apa lagi dengan keluarga kita teman-teman?????

Terima kasih Alloh.

setengah tahun tlah berlalu

July 4th, 2008 by kusumastuti

Setengah tahun berlalu. Nggak terasa enam bulan sudah aku menjalani peran baruku sebagai seorang istri dai Rawa Lumbu. Benar-benar nggak terasa. Sangat cepat dan berlalu begitu saja…

Masalah pribadi, miskom-miskom kecil, sedikit masalah dengan tetangga sekitar, mewarnai kanvas hidupku yang makin penuh berisi goresan kisah.

Ada banyak tawa juga air mata. Beberapa impian dan tujuan belum berhasil diraih. Salah satunya impian untuk bekerja. Meraih pekerjaan di Jakarta kok sama susahnya dengan di Jateng ya? Apa karena status ‘married’nya? Ato karena jilbabnya? Ato memang kurang mumpuni? kasian deh lo…

Orang tua dan mertua sama-sama selalu menanyakan, ‘gimana dah dapet kerja’? Tapi alhamdulillah akhirnya sebuah lembaga pendidikan menerimaku sebagai pengajar fisika SMA, sebuah pelajaran memusingkan yang bahkan aku sendiri pun masih agak takut menghadapinya. Tapi teringat kata-kata dosenku Hidrologi dulu aku jadi bersemangat. Kata Pak Agus: ‘Asahlah otak dengan batu, dia akan tajam. Jika diasah dengan bantal dia akan tumpul. Jangan manjakan otak!’ Oke, Pak, walau saya sedikit berkhianat dengan kompetensi saya, saya akan berjuang! Fight!

Btw, dulu ada perusahaan Jepang yang naksir dengan lamaran kerja dan job experienceku. Mereka sampai menelponku berkali-kali minta aku mau bekerja dengan mereka. Tapi aku tolak. Bukan apa-apa. Walaupun fasilitas oke, gaji oke, karier oke, tapi aku harus mau dideportase ke sebuah perusahaan udang asing nun jauh di Pulau Seram sana.Yang sinyal HPnya masih suka putus, yang terpisah dari peradaban dunia… Wah bener-bener serem ^_^. Mereka menganjurkan suami keluar dari kantornya dan berdua hijrah di sana! "Lima sampai sepuluh tahun di sana, nanti pulang lagi ke Jawa sudah bisa ngapa-ngapain, Mbak" kata salah seorang HRD-nya. Fiuuuh, godaan dunia yang benar-benar menggiurkan! Tapi…setelah dipikir masak-masak…kita belum bisa menerima tawaran itu…

Insyaalloh, rezeki Alloh masih luas, Ukhti… Hmmm, semangaaaat!!!!

JERITAN RAKYAT BAWAH

April 24th, 2008 by kusumastuti

Sebuah pertanyaan retoris
pernah dimuat di Kompas: Penting mana bagi Presiden, mengurusi rakyat yang
kelaparan atau rekaman album? Penting mana bagi Presiden, nonton film atau
nambal jalan?

 

 Semakin parah saja harga-harga kebutuhan pokok
masyarakat naik. Dunia sedang krisis
minyak dan sembako. Negara-negara pengekspor beras mengurangi jatah ekspornya. Minyak
tembus 115 dolar perbarel, sementara harga BBM di Indonesia ditentukan dengan
anggapan harga minyak adalah sebesar 95 dolar perbarel. Si pengamat ekonomi
yang cantik, Bu Aviani, mengatakan bahwa pemerintah mau tidak mau harus
menaikkan harga BBM untuk mengurangi subsidi. Jika tidak, katanya, investor
akan semakin tidak percaya kepada Pemerintahan Indonesia. Laju inflasi juga
terancam meningkat.

 

 Saya memang tidak terlalu
faham apa hubungan besarnya subsidi dengan kepercayaan para investor serta laju
inflasi. Saya tidak akan berbicara hal-hal yang tidak saya fahami. Saya hanya
ingin mengupas dari pandangan orang awam yang tidak tahu apa-apa. 

 

 Beberapa kali tokoh-tokoh
ekonomi pemerintahan Indonesia menyampaikan adanya gejala-gejala harga BBM akan
dinaikkan lagi. Padahal orang bodoh pun tahu jika BBM naik, otomatis semua
harga barang akan naik mengingat semua barang membutuhkan BBM untuk proses produksi
dan distribusinya. Jadi, jika memang suatu saat terjadi BBM naik harganya,
mungkin minyak goreng akan tembus Rp 15.000,00 perliternya, gas elpiji tembus
Rp 60.000,00 pertabung12kg-nya, telur tembus Rp 15.000,00 perkilonya, dan begitu
seterusnya pada barang-barang lain.

 

 Padahal Anda tahu nggak
berapa gaji anggota dewan? Saya bersyukur Slank menciptakan lagu keren berjudul
“Gosip Jalanan”. Saya berharap dengan mendengarkan lagu Slank itu para
anggota dewan sedikit terketuk hatinya untuk mengingat amanah utamanya terhadap
rakyat. Pernah diekspos di televisi (saya lupa kapan dan saluran apa) tentang
kecenderungan para anggota dewan menyekolahkan putra-putranya. Di situ disorot
dua anggota dewan pusat yang sama-sama menyekolahkan anaknya di luar negeri
yaitu di Singapura dan Australia. Sempat juga diteliti besar penghasilan
mereka. Yang saya ingat, salah seorang dari anggota dewan itu punya penghasilan
fantastis, gaji pokok plus sekian tunjangannya, total penghasilan perbulan Rp
44.000.000,00. Masyaalloh! Benar-benar sakit hati saya mengingat gaji sebesar
itu didapatkan dari uang rakyat yang rajin membayar pajak. Sakit hati saya
mengingat berkali-kali kita melihat apa yang mereka lakukan di gedung MPR/DPR
yang nyaman, dingin, dan berkursi sangat empuk itu: ngobrol, tidur, membaca
koran, mainan HP, dan semuanya dilakukan di tengah jalannya sidang!
Sidang
apapun! Hal ini pernah diliput di Snap Shot Metro TV. Anggota dewan juga
senangnya bukan main jika negara memberi tugas lawatan ke luar negeri. Entah
judulnya studi banding, perundingan bilateral, multilateral, atau apapun. Sebab
di semua lawatan yang mereka lakukan, mereka akan memiliki kesempatan untuk jalan-jalan
dan melancong ke berbagai objek wisata di nagara itu, bisa belanja, dan lebih
dari itu semua, mereka akan mendapatkan pesangon yang sangat besar. Saya tidak
tahu persisnya berapa rupiah memang. Tapi hal itu sudah menjadi rahasia umum di
negara kita. Saya sering mendengar sindiran: Enak sekali lo melawat keluar
negeri itu bagi anggota dewan. Sudah akomodasinya seluruhnya ditanggung negara,
masih dapat uang saku lagi! Siapa akan menolak???

 

Sekarang saya ingin bertanya pada
khalayak, pernahkah pemerintah berfikir untuk membebankan kenaikan minyak dan
sembako dunia ini kepada para anggota dewan yang terhormat itu????? Pernahkah
pemerintah berfikir untuk menutup subsidi BBM dengan memotong gaji para anggota
dewan yang terhormat????? Pernahkah pemerintah sekali saja berfikir untuk
mengutamakan kesejahteraan rakyat daripada mementingkan kekayaan pribadi?????
Pernahkah Presiden berfikir betapa sulitnya para petani dan buruh-buruh pabrik
berjuang untuk mempertahankan hidup????? Pernahkah Presiden berfikir untuk
memperhatikan kehidupan orang-orang yang tinggal di paviliun alias rumah
bedeng,
di bawah kolong jembatan, di bantaran-bantaran sungai?????

 

Kadang saya bertanya-tanya,
bagaimana mereka bisa menjadi wakil rakyat dengan cara berfikir yang sedemikian
pragmatisnya? Saya juga heran, bagaimana bisa seorang presiden dari negeri di
mana rakyatnya banyak yang mati kelaparan dan hutangnya lebih menggunung dari
gunung Jaya Wijaya ini bisa dengan enjoy merilis album solo dan menonton film
Ayat-ayat Cinta? Tidak pernahkah mereka membaca kisah Umar bin Khattab Al Faruq
yang bela-belain jalan-jalan di kota di tengah malam untuk inspeksi langsung
kepada rakyatnya, Umar yang jarang tidur di malam hari karena memikirkan
rakyatnya, Umar yang berkata: segala harta yang diterima seorang pemimpin di
luar gaji adalah korupsi, Umar yang walaupun telah menjadi Khalifah dari
seluruh umat Islam di dunia tetap saja tidur dengan alas kulit kasar dan keras
– sebagaimana yang dilakukan oleh sahabatnya dahulu, Rasululloh saw? Tidak
pernahkah mereka berfikir bahwa menjadi pemimpin negara adalah amanah yang luar
biasa besar tanggungjawabnya dan pasti, pasti akan dimintai
pertanggungjawabannya di akhirat???

 

Sekarang setiap melihat berita di
televisi dan membaca koran, yang ada hanya sakit hati dan sakit hati. Setiap
ada permasalahan di bidang ekonomi, rakyat selalu jadi tumbal. Padahal bagi
anggota dewan, mereka selalu mendapat tunjangan yang disesuaikan dengan harga
aktual. Misalnya tunjangan BBM. Jika BBM naik, otomatis tunjangan BBM naik, dan
gaji mereka pun naik. Sedangkan rakyat kecil? Boro-boro penghasilan naik. Bagi sektor
ekonomi informal seperti penjual-penjual gorengan dan warung-warung kecil di
pinggir jalan, omset mereka selalu turun jika BBM naik. Wawancara di berbagai
media yang pernah saya dengar cukup menjadi bukti otentik.

 

Tahun ini partai-partai baru
bermunculan dengan subur seperti jamur di musim hujan. Mereka bersiap ikut
serta dalam perebutan kursi presiden di Pemilu 2009. Partai Hanura-nya Wiranto
– mungkin masih penasaran dengan kegagalannya di tahun 2004, Partai Matahari
Bangsa, dan bahkan Partai Kesejahteraan Rakyat-nya sang mantan Menteri
Penerangan, Harmoko. Seperti yang termaksud di karikatur kurang sopan termuat
di buletin 9949, mereka seolah menjadikan penderitaan rakyat sebagai komoditi
yang dijual di Pemilu 2009. Alloh Swt Mahatahu.

 

Sedih sekali melihat kerja pemerintah yang seperti ini. Sedih sekali.
Semoga Pemilu 2009 membawa perubahan berarti bagi bangsa ini.

BUMI SEMAKIN PANAS!!!

April 24th, 2008 by kusumastuti

Gas_rumah_kaca
“Dekade 1990-an dan 2000-an adalah 10 tahun
terpanas!”

(World Metereological Organization)

 

Tahun 1998 tahun paling panas dalam sejarah (apalagi di Indonesia waktu itu
sedang demam bakar-bakaran – red). Selanjutnya tahun 2002 dan 2003. Dalam 100
tahun terakhir, suhu rata-rata Bumi naik 0,7 derajad Celsius. Bahkan The
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) memprediksi suhu Bumi akan
meningkat sampai 5,8 derajad Celsius hingga tahun 2100. Bayangkan, dalam
rentang 50 juta tahun ke belakang, Bumi jauh lebih panas! Kenaikan suhu Bumi
yang tidak wajar ini dikenal sebagai Global Warming atau Pemanasan Global.

 

Kok bisa?

 

Permukaan bumi dilapisi dengan Gas Rumah Kaca (GRK). GRK adalah sekumpulan
gas yang berfungsi sebagai panel kaca layaknya rumah kaca pembibitan di
pertanian atau perkebunan. Ketika memasuki atmosfer Bumi, panas matahari harus
melewati panel ini. Kemudian diserap oleh tanah, air, dan ekosistem lain.
Makanya Bumi terasa hangat. Tanpa GRK bumi tidak layak ditinggali karena dingin
bahkan beku. Panel GRK berfungsi menangkap panas matahari agar tidak seluruhnya
terlepas ke angkasa. Proses ini disebut Efek Rumah Kaca. Berarti, dalam taraf
yang wajar, GRK sangat penting bagi kelangsungan hidup di bumi.

 

Namun GRK di atmosfer bertambah kian hari kian cepat. Bahkan terlalu cepat
shingga menjadi padat dan malah menghalangi panas matahari yang seharusnya
dikeluarkan. Hasilnya, Bumi semakin panas. Kini yang terjadi justru Climate
Change atau Perubahan Iklim.

 

Akibatnya?

 

Anda tidak cuma kepanasan dan kekeringan sendirian, tapi…

 

Gletser
di Kutub Utara dan Selatan mencair (mungkin maksudnya es di kedua kutub
mencair, karena setahu saya gletser itu ya es mencair itu – red),

10-20%
gletser di pegunungan Alpen hilang (mungkin maksudnya es di pegunungan Alpen hilang
– red),

Permukaan
air laut naik 9-96 cm. Garis pantai bergeser dan penduduk pesisir pantai
terancam mengungsi, termasuk Indonesia,

- Sumber kebutuhan air tawar sepertiga penduduk dunia
kering pada tahun 2100,

- Suhu air laut yang panas membuat terumbu karang menjadi
putih dan mati, termasuk berbagai jenis karang yang menjadi sumber makanan
manusia juga,

- Jumlah kelahiran penyu betina lebih banyak dibandingkan
penyu jantan akibat suhu pengeraman yang tinggi,

80%
spesies tanaman dan binatang akan punah dalam 1 abad mendatang,

Kekeringan
dan kebakaran hutan di hutan tropis Indonesia kian tinggi. Bagaimana dengan
orang utan dan habitatnya? Bagaimana dengan manusia?

Beberapa
jenis nyamuk pembawa penyakit seperti demam berdarah dan malaria menyebar
keluar dari daerah tropis,

Musim
kemarau yang panjang dan musim hujan yang pendek sehingga sering gagal panen,
terancam krisis pangan,

Intensitas
hujan yang lebih hebat hingga terjadi badai besar, hujan keras, dan banjir,

- Sekurangnya 150,000 jiwa tewas setiap tahunnya akibat
pemanasan global (sumber: WHO, UNEP, dan World Meteorology Council). Tahun
2003, gelombang udara panas di Eropa menelan korban 25,482 jiwa, dalam 20 tahun
mendatang,

Es
seluas 33.000 km2 di pegunungan Himalaya mencair

 

Penyebab GRK: diakui atau tidak aktivitas
kita seringkali menggunakan bahan bakar fosil (batu bara, gas alam, minyak
bumi). Bahan bakar yang proses pembuatannya butuh waktu berjuta-juta tahun dan
tidak dapat diperbarui. Efek sampingnya pun berat, hasil pembakaran bahan bakar
ini memenuhi atmosfer dengan GRK. Pertumbuhan penduduk, perkembangan industri,
dan teknologi semakin menambah jumlah GRK yang dilepaskan di udara.

 

Apa sih GRK?

Ada 6 jenis GRK: karbondioksida (CO2),
dinitroksida (N2O), Metana (CH4), Sulfurgeksafluorida (SF6), Perfluorokarbon
(PFCs), dan hidrofluorokarbon (HFCs), CO2 merupakan GRK utama (80% dari total
jumlah GRK). Saat ini jumlah emisi CO2 sebesar 12 kali lebih besar dibanding
tahun 1900.

 

Darimana datangnya GRK?

1. 37% total emisi CO2 datang dari sektor
listrik. Polutan terbesar: 23 trilyun ton emisi CO2 pertahun atau lebih dari
700 ton perdetik dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil

2. Pembuangan transportasi, Kendaraan yang
mengonsumsi 7,8 liter bahan bakar per 100 km dan menempuh jarak 16 ribu km,
setiap tahunnya mengeluarkan 3 ton CO2 ke udara

3. Penggundulan atau pembakaran hutan.

 

Harus ada aksi nyata sekarang juga!!!

 

(Sumber: nuletin dari WWF di GreenFest
Senayan)

OLEH-OLEH DARI GREENFEST

April 24th, 2008 by kusumastuti

Hari itu, Jumat tanggal 18 April 2008, ada dua acara menarik di Jakarta. Satu,
Kick Andy Offair yang bertajuk Laskar Terakhir. Tentu saja hadir sebagai
pembicara, salah satu penulis favoritku: Bang Ical alias Andrea Hirata. Acara
ini diadakan di Balairung UI jam tiga sore. Akomodasi free, dapet doorprize
juga kata iklan di MetroTV. Acara kedua, Grandlaunching Green Festival di
Senayan, pameran bertema Cinta Lingkungan dan Global Warming yang bakalan
digelar selama 4 hari, 18-22 April 2008.

 Sebagai pembaca setia dan
pengagum Laskar Pelangi, saya tentu lebih memilih acara pertama. Kebetulan hari
itu Yangkung masuk shift malam, jadi kami punya waktu cukup panjang untuk
jalan-jalan.

 Saya pun bersiap
berangkat. Kalau pengen nyampe di UI tepat jam tiga, seharusnya kami berangkat
jam setengah dua.
Tapi saat itu sudah jam dua, kebablasan tidur siang
ceritanya. Sebelum berangkat
Yangkung melihat sekali lagi iklan Kick Andy Offair di MetroTV. Sehabis iklan
itu beliau langsung bertanya, “Kayaknya harus pesen tiket dulu ya, Yangti?”
Deg! Baru saya ingat, seharusnya beberapa hari sebelumnya saya buka website
www.Kickandy.com dulu buat cari info lebih lanjut mengenai acara itu. Kami pun
jadi sangsi. Jadi nggak nih pergi? Takutnya sampai sana, jauh-jauh nggak boleh
masuk, gara-gara nggak bawa tiket? Kan sayang banget! Akhirnya, dengan sangat
menyesal, kami memutuskan pindah tujuan. Dari UI di Jakarta Selatan ke Gelora
Senayan di Jakarta Pusat.

 Bukan Jakarta kalau nggak
macet. Waktu tempuh yang seharusnya hanya 1 jam-an harus ditempuh sekitar 2 jam. Satu jam lebihnya dimakan macet,
cet, cet. Jalan Sudirman, Jalan Casablanka, juga Jalan Kalimalang tentu saja.

 Tapi capek dan penat di
jalan langsung berkurang drastis waktu memasuki kompleks Gelora Senayan yang
hijau dan lapang. Hufff… Apalagi di Masjid Senayan. Kalau tidak salah masjid
Al Bina namanya. Adeeeeemmmm, nyamaaaaan, sejuuuk, enaaaak banget. Di belakang
masjid itu ada hutan alami yang masih memberikan cicit-cicit burung dan tanah
liat licin, juga pohon-pohon besar. Ceritanya, kami sempat kesasar di hutan itu
waktu cari masjid. Jadi malah tahu ada hutan asri di situ ^_^.

 Memasuki kompleks pameran,
kursi-kursi masih tertata rapi, tapi sebagian besar kosong.
Bekas acara pembukaan pameran. Di atas
panggung sana ada pertunjukan tarian Saman dari Aceh. Tak lama kemudian tampil
penyiar MetroTV favoritku, mbak Prita Laura. Tapi kami terus melangkah menuju
stand-stand pameran.

 Stand pertama yang kami kunjungi memamerkan
benda-benda yang terbuat dari daur ulangan bungkus dan kemasan produk-produk
industri. Ada tas, kotak pensil, keranjang pakaian, gorden, semuanya terbuat
dari bekas bungkus pewangi pakaian atau sabun cair pencuci piring atau kecap.
Bungkus-bungkus itu disambung-sambung dengan lakban lalu dijahit dan diberi semacam
bisbane. Di sudut lain ada juga tikar, tas, keranjang, dan beberapa barang lain
yang semuanya dibuat dari anyaman alumunium bekas kemasan pasta gigi. Subhanalloh,
lucu-lucu juga ternyata kalau sudah jadi barang! Kreatif! Tadi (24 April 2008)
di TV barusan saya melihat perusahaan yang memproduksi barang-barang anyaman
dari kemasan pasta gigi ini. Lokasinya di Tangerang. Omsetnya 12 juta perbulan.
Mampu mempekerjakan 13 karyawan. Upah bikin satu tas Rp 3.500,00, untuk sajadah
Rp 10.000,00. Bahan bakunya dibeli seharga sekitar Rp 5.000,00 perkarung.
Tergantung kualitas barang. Masing-masing karyawan bisa mengantongi Rp
50.000,00 – Rp 80.000,00 perminggu. Hmm, cukup menjanjikan bukan?

 Kembali ke laptop, di
stand yang lain kami belajar tentang pembuatan pupuk kompos dari sampah organik
dapur. Kebetulan saya sudah mencoba membiasakan diri memisahkan sampah organik
dan anorganik di rumah, dan pernah sukses membuat pupuk kompos dari sampah
organik dapur (hasilnya saya pakai sebagai campuran di pot kembang). Stand yang
satu ini sangat menarik bagi saya. Di situ dijual ember khusus tempat mengolah
sampah dapur dan supermic sampuk (singkatan dari sampah jadi pupuk),
sebuah bubuk peragi kompos yang berfungsi mempercepat pembusukan sampah. Saya
beli sebotol supermic yang berisi setengah kilogram. Harganya Rp 20.000,00.
Lumayan mahal menurut saya.

 Kami tiba di stand
LSM Pelangi. Di stand ini kami ditawari
untuk difoto sambil membawa poster cinta lingkungan. Ada beberapa poster yang
bisa dipilih. Kami memilih poster yang bunyinya: MENGURANGI SAMPAH. Lalu kami
difoto dengan membawa poster itu. Jepret! Horeeee… Katanya foto itu besok
akan dipasang di website mereka. Saya juga belum nyari website-nya. Katanya sih
mereka mau menghubungi kami. Tapi sampai sekarang tidak juga dihubungi. Lupa
kali…

 Yang paling asyik adalah
di stand terbesar milik Kompas. Stand itu didesain mirip rumah yang
sesungguhnya. Ada kamar tamu, kamar keluarga, kamar makan, dapur, kamar mandi,
garasi, taman/kebun. Di setiap ruangan itu mereka benar-benar meletakkan
perabot-perabot asli.
Kitchen set, kamar tidur, almari, TV, closet,
wastafel, bathtub (tulisannya bener nggak^_^), dan lain-lain. Lantas di
masing-masing item barang di setiap ruang, diberi info tentang kerusakan
alam dan cara yang bisa kita lakukan di
ruangan itu untuk menguranginya. Misalnya di kamar mandi. Di situ ada diagram
perbandingan banyak air yang digunakan pada saat seseorang mandi dengan alat
yang berbeda-beda. Mandi dengan shower membutuhkan air paling banyak setelah
bathtub, maka dianjurkan mandi dengan gayung, dan secukupnya saja. Lantas di
kamar makan, disebutkan bahwa penggunaan
tisu merupakan tindakan yang tidak cinta lingkungan sebab, walaupun praktis,
tisu terbuat dari serat pohon. Semakin banyak memakai tisu semakin banyak pohon
ditebang. Alangkah baiknya jika kita memakai kain serbet yang bisa dipakai
ulang berkali-kali (jangan lupa rajin nyuci tentunya!). Lalu di garasi. Di situ
dipaparkan fakta bahwa kendaraan bermotor merupakan penyumbang terbesar CO2
nomor dua di bumi. Data-data numerik hasil penelitian dipaparkan. Pada intinya,
dianjurkan warga

kota

untuk mengurangi pemakaian kendaraan bermotor pribadi, dan lebih memilih naik
kendaraan umum, sepeda ontel, atau jalan kaki (sayang nggak ada option terbang
dengan awan kintoun-nya Son-gohan Dragonball yang bebas BBM itu ^_^).

 Kami
mengambil banyak-banyak brosur. Di dalam masing-masing brosur tersebar
info-info penting tentang krisis yang diderita bumi. Salah satu info tentang
Global Warming akan saya upload di post berikutnya, Insyaalloh.

 Cukup
lelah pulang dari GreenFest. Terutama lelah di jalanannya yang macet. Tapi
alhamdulillah kami mendapat, nggak cuma banyak ilmu yang bisa dibagi, tapi juga
sticker kampanye: Ayo Tanam Pohon!

 Satu
hal yang menjadi pertanyaan saya sepulang dari pameran: Benarkah dugaan saya
bahwa orang kaya lebih tidak cinta lingkungan daripada orang miskin?
Angin Cepoi-cepoi dari
kipas ala Patkai yang dipakainya. Semakin kaya otomatis memiliki alat-alat elektronik
semakin banyak yang berarti menggunakan energi lebih besar, sedangkan orang
miskin sebaliknya. Jadi setujukah Anda jika saya mengatakan: Orang miskin
lebih cinta Bumi???
Lepas dari kenyataan bahwa orang miskin sebenarnya juga
ingin menjadi orang kaya loh ^_^… Sebab
yang punya mobil pribadi hanya orang kaya, orang miskin kalau tidak jalan kaki,
ya naik sepeda, atau naik kendaraan umum. Yang punya shower dan bathtub tentu
orang kaya. Orang miskin tentu mandi pake gayung. Yang punya AC tentu orang
kaya. Orang miskin juga punya AC, tapi singkatan dari

 

Rawa Lumbu, 24 April
2008 (16:12)

 

 

CERITA DARI SEKOLAH ALAM CIGANJUR

April 20th, 2008 by kusumastuti

Hari itu, Jumat
tanggal 11 April 2008, ringtone Gema
Takbir di Hari Raya
-nya Raihan dari Hp-ku terdengar nyaring. Ada panggilan dari unknown number, kode wilayahnya Jakarta. Dalam hati aku berdoa: semoga dari HRD salah satu
perusahaan tempat aku melamar kerja!

 

W: Assalamu’alaikum

X: Wa’alaikum salam, dengan ibu
Kusumastuti Rahmawati?

W: Iya benar…

X: Saya Ibu Veni dari Sekolah
Alam Citra Alam Ciganjur Ibu. Kami mengharapkan kehadiran Ibu untuk tes micro
teaching hari Kamis tanggal 17 April jam 9.30 sampai jam 10.40

W: (Menahan rasa bahagia) Oh, iya
baik…

X: Ibu harap mempersiapkan diri,
materi yang harus disampaikan adalah Pelajaran Fisika dengan materi Kalor dan
Perpindahannya kelas IV dengan bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Bisa Ibu?

W: Iya, insyaalloh bisa.

Percakapan via gelombang elektromagnetik itu pun berakhir dengan salam

 

Giliran aku tertegun. Teringat sebulan yang lalu, hari Selasa, 11 Maret
2008 (di hari yang sama 32 tahun yang lalu UNS berdiri…)
Kak Veni juga
telpon, in English conversation, intinya aku disuruh datang ke Sekolah Alam
Ciganjur (hereinafter we call it SAC) untuk tes wawancara. Kak Veni is the Head
master of this Nature School.


Sebulan berlalu dari tes pertama. Dulu saat mewawancaraiku di tes pertama, Mr.
Teguh bilang (Mr. Teguh adalah semacam HRD-nya SAC), mereka butuh waktu sekitar
1-2 minggu untuk menentukan applicant mana yang akan dipanggil untuk tes kedua.
Karena sudah lebih dari sebulan maka penyakit hopeless itu muncul begitu saja
di hatiku. Ah, mungkin belum rezekiku. Eh, ga tahunya, tak disangka-sangka, aku
dipanggil lagi! Alhamdulillah, harapan tumbuh kembali. Impian untuk mengajar
Fisika bareng anak-anak di sekolah yang keren dan unik terbayang lagi.

 

Maka perjuangan dimulai. Karena MT-nya (Micro Teaching) dalam bahasa
Inggris, aku mulai browsing, mencari materi Heat and It’s Transmission atau
Heat Transfer.
Lalu dapet pinjaman buku Fisika SMP-nya baru hari Rabu, dari
Yai, anak Karisma Al Ikhlas dari RT 05 yang sebentar lagi akan maju perang di
Olimpiade Kimia bulan Mei atau akhir April ini (maaf Yai, mbak Rahma lupa lagi
^_^). Dari tanggal 11 sampai 17 ada waktu 5 hari efektif untuk persiapan
sebenarnya. Tapi yang benar-benar kumanfaatkan untuk persiapan adalah hari Rabu
sampai Kamis paginya. Biasaaa…kebiasaan SKS (Sistem Kebut Semalam) ala jaman
kuliah masih setia ngendon di kepala, hehehe…. Takbela-belain bikin alat
percobaan sendiri Kamis pagi itu. Alat untuk menunjukan perpindahan kalor
secara konveksi itu kubuat dari kardus Mpek-mpek bekas oleh-oleh dari
Prabumulih, dilubangi di dua sisi bagian atas, disambung dengan gelas VIT bekas
(untungnya aku masih punya hobi merawat barang-barang bekas yang kira-kira bisa
dimanfaatkan ^_^). Kita sebut saja alat percobaan buatanku ini dengan nama
Kotak Konveksi. Taraaaaat…!!!!

 

Pagi sebelum berangkat, kami (aku en Yangkung) mencoba alat itu. Kami menyalakan
lilin di dalam kotak mpek-mpek di bawah sebuah lubang dan mendekatkan kertas
yang berasap (sebelumnya dibakar dahulu) di lubang yang lainnya lagi. Kalau
idealnya di dalam buku, asap dari kertas itu akan masuk lewat lubang pertama
yang ada di dekat kertas berasap tadi lalu keluar lewat lubang kedua di atas
lilin. Tapi apa yang terjadi? Itu asap malah berkumpul dan bergulung-gulung
saja di dalam kardus Mpek-mpek. Ealaaah, iki piye to kok ra dadi-dadi
percobaane? Opo buku-buku pakete do ngapusi???
Kami coba berbagai kombinasi
percobaan tetap saja belum sempurna seperti yang diperlihatkan di buku paket
Fisika. Ih, gemeeesssss…

 

Waktu semakin mepet. Pengalaman pertama kami butuh waktu 2 jam hingga SAC.
Tes MT dimulai jam 9.30. Maka jika ingin ada waktu ekstra untuk persiapan kami
harus berangkat 2,5 jam sebelumnya, berarti jam 7! Aku belum apa-apa! Segera
aku kemas-kemas dibantu Yangkung. Terpaksa aku tetap membawa Kotak Konveksi itu
ke SAC. Demi menghargai perjuanganku yang sudak capek-capek membuatnya. Siapa
tahu nanti di Ciganjur ada keajaiban terjadi.

 

Mau tahu bagaimana rasanya perjalanan dari Rawalumbu Bekasi hingga lokasi
SAC di Ciganjur, Jakarta Selatan? Sungguh jauh dari nyaman!!! Jalan terpendek
dari Bekasi ke Jakarta Selatan adalah lewat Jalan Raya Kalimalang, yaitu
satu-satunya jalan penghubung Bekasi dengan Jakarta Timur. Jalan Raya
Kalimalang terbentang sepanjang kurang lebih 13 Km (kuukur dari peta Jabotabek
berskala 1:70.000 dengan benang, kalo salah, salahkan petanya ya ^_^) sejajar
dengan sungai buatan Kalimalang. Sungai ini adalah sumber air PDAM. Limbah
domestik dilarang masuk ke sungai ini.
Tapi ya pastinya ada orang-orang yang melanggar peraturan. Separo kanal ini
masuk ke daerah administrasi Bekasi, separo yang lain masuk Jakarta Timur.
Jalan Kalimalang tak pernah nggak macet. Jalannya rusak pula.

 

Sebagai lulusan Teknik Sipil, aku benar-benar prihatin dengan kondisi jalan
satu ini. Paling tidak ada tiga koreksi besar yang sebaiknya segera
diperhatikan PU Bekasi maupun Jakarta Timur.

 

1. Geometri jalan jauh dari mencukupi. Setiap
ruas dari jalan yang lebarnya maksimalnya 15 m (lebar jalan tidak tetap) itu
kepayahan dijejali puluhan kendaraan bermotor perdetiknya. Macet sudah
langganan di sini. Jangankan di jam-jam puncak (peaktime), di
jam-jam biasa pun jalan ini tetap penuh. Wajar mungkin mengingat ini jalan
utama penghubung Bekasi dan Jakarta Timur.

2. Rekayasa lalu lintasnya belum maksimal. Untuk jalan sepanjang ini, selurus ini,
seharusnya lalu lintas bisa lancar. Masalahnya ada beberapa titik percabangan
yang arusnya cukup padat. Misalnya titik potong jalan Kalimalang dengan jalan
menuju ke Kawasan Industri Pulogadung, atau dengan jalan ke arah Jati Bening,
atau ke Pondok Gede. Sebagian besar dari itik-titik perpotongan itu tidak
dilengkapi dengan lampu merah. Ditambah dengan tidak tertibnya kuasi-kuasi
(angkot) yang parkir seenaknya di pinggir jalan sehingga badan jalan efektif semakin
sempit. Jarang terlihat ada petugas Kepolisian yang turun lapangan untuk
membantu memperlancar jalan.

3. Drainase jalan kacau. Ada sebagian ruas
jalan Kalimalang yang memiliki median selebar setengah meter di tengah jalan.
Median kecil seperti ini sering dibangun di jalan-jalan ramai untuk mencegah
pencaplokan jalur oleh jalur yang lain. Dengan adanya median, mau tidak mau
kendaraan harus berada di jalur yang seharusnya, tidak bisa main serobot
seenaknya saja.
Median
seperti ini juga bisa kita temui di Jalan Ahmad Yani yang cukup ramai di Solo.
Kembali ke jalan Kalimalang, keberadaan median itu ternyata membuat air dari
jalur timur tidak bisa mengalir ke Kalimalang, sementara sisi utara jalan
elevasinya lebih tinggi dari badan jalan. Akibatnya jalur timur selalu terendam
air cukup lama jika hujan tiba. Padahal air adalah musuh utama aspal. Sudah
bisa ditebak bagaimana akibatnya. Dengan beban lalu lintas yang melebihi
kemampuan, ditambah dengan lemahnya aspal karena terendam air terus-menerus,
akhirnya jalur timur dari jalan Kalimalang hancur, lubang-lubang menganga
begitu dalamnya, mulai dari POM bensin LIA hingga perempatan Galaxy. Pecahan
batu kali yang sebelumnya menjadi lapisan dalam macadam mencuat di mana-mana.

 

Saya akan menuliskan lengkap tentang jalan
Kalimalang ini lengkap dengan alternatif-alternatif solusinya di artikel
berikutnya Insyaalloh. Lepas dari jalan Kalimalang jalan seterusnya adalah
jalan raya yang panas, bising, penuh dengan asap yang mungkin banyak mengandung
gas CO (hasil pembakaran tidak sempurna BBM), dan kompetisi ugal-ugalan dari
setiap kendaraan, pengen menang sendiri (termasuk Yangkung ^_^).

 

Satu setengah jam duduk di motor bikin badan
pegal. Jam sembilan kami tiba di halaman SAC. Aku menghubungi Kak Veni. Tak
lama kemudian Kak Veni muncul menyambutku. Postur tubuhnya mengingatkanku pada
Mama Ochi, tetangga depan rumah di Rawa Lumbu. Agak gemuk dan tinggi besar.
Berjilbab, bercelana panjang.

 

Ternyata kak Veni lupa jika hari itu anak kelas
tujuh ada pelajaran berenang. Terpaksa MT-nya diundur hingga jam 10:30.
Kemunduran ini kusyukuri. Aku masih harus menyiapkan beberapa alat percobaan
dan review materi yang akan diberikan. Aku menyiapkan kompor spiritus, kaki
tiga, kasa kompor, termometer, dan gelas kaca di lab SAC. Waktu masih panjang.
Aku belum sarapan. Aku ijin makan di warung di mana Yangkung sedang duduk
menungguku sambil mengetik di laptop. Aku makan nasi sedikit (prasmanan) lauk
ayam goreng plus sambal plus segelas teh anget.
Mahal. Lima ribu segitu. Di Solo 3,5 ribu aja sudah
lebih kenyang en lebih lezat.

 

Akhirnya waktu mengajar tiba. Sebelum masuk kelas,
Yangkung wanti-wanti: “Hati-hati, anak-aak habis renang pastinya capek dan
ngantuk.”
Aku mengangguk. Aku optimis akn bisa mengendalikan kelas dengan
baik. Kak Veni memanggilku. Aku masuk kelas. Hmmm, lihatlah anak-anak itu.
Jumlahnya hanya 9 orang. Dua putri tujuh putra. Seperti biasa, setiap kelas di
setiap sekolah di semua kota di semua negara selalu terbagi menjadi tiga
golongan: para siswa teladan, tukang pembuat onar, dan golongan medium. Begitu
masuk saja sudah kelihatan siapa si siswa teladan dan siapa si tukang pembuat
onar.
Dua yang putri terlihat
kalem dan pendiam. Merekalah golongan medium.

 

Sebelum berangkat aku sudah membayangkan suasana
belajar yang bergairah dan penuh semangat keingintahuan anak-anak. Aku
membayangkan mereka dengan antusias mengikuti petunjuk demi petunjuk yang
diberikan saat percobaan dilaksanakan. Aku membayangkan celotehan riang dan
agresif mereka sebagaimana yang kubaca di website SAC.

 

Tapi kenyataannya tak seindah bayanganku.

 

Mereka tampak lesu, ogah-ogahan. ‘Hati-hati
Watik, mereka anak-anak dari golongan berada yang biasa terpenuhi semua
keinginannya’
, begitu pikirku. Di awal kuajak mereka bermain tepukan.
Selanjutnya percobaan dimulai. Golongan siswa teladan cukup membantu. Tapi sang
pembuat onar benar-benar membuat hatiku jengkel. Susah diatur, susah
diingatkan… Sementara golongan medium pasif sama sekali. Mereka tidak mau
bergabung dengan kelompok yang telah dibuat. Berdasar perhitungan kekuatan,
2:1, golongan siswa teladan kalah dominan dibanding golongan medium yang sama
tidak membantunya dengan golongan pembuat onar.

 

Ada beberapa faktor yang membuat kelas kurang
bergairah.

 

1. Bahasa pengantar Inggris membuat mereka
kurang begitu faham dengan apa yang ingin kusampaikan. Walaupun sudah kuberi
terjemahannya berkali-kali, mereka sedikit terhambat dengan komunikasi bahasa
Inggris ini. Hanya golongan siswa teladan yang mau bertanya beberapa kali jika
mereka menemukan kalimat yang susah difahami.

2. Kondisi bahwa mereka baru saja berenang.
Dulu di Solo, aku dan adik-adik kosku paling tidak sebulan sekali renang di
Kolam Renang Tirtomoyo Solo. Habis renang rasanya pengen rebahaaaan aja. Kalau
perlu tidur sekalian. Capek. Aku pernah mendengar di televisi, renang adalah
olah raga yang paling baik untuk membakar kalor di semua bagian tubuh. Dan itu
yang dirasakan anak-anak kelas VII SAC ini. Golongan pembuat onar sejak awal
sudah terlihat malas-malasan. Ada yang hobi meletakkan kepalanya di meja dengan
malas dan tidak menghiraukan apa yang kukatakan. Ouw, sedihnya…

3. Kenyataan bahwa hanya orang-orang berada
yang bisa menyekolahkan putra-putrinya di SAC. Aku baca di websitenya, bea
masuk untuk SMP jauh lebih mahal daripada Sumbangan masuk UGM.
Biaya semesterannya juga lebih mahal SAC
daripada kuliahku di UNS dulu. Stereotip yang masih berlaku (paling tidak di
kepalaku sendiri ^_^) adalah bahwa mayoritas anak orang kaya cenderung manja
dan tidak terbiasa bersusah-susah dalam hal apa saja. Sehingga di kondisi capek
seperti saat itu, mereka maunya istirahat dan istirahat.

4. Mereka tahu bahwa aku adalah calon Kakak
baru – mereka memanggil guru dengan sebutan kakak karena memang semua
gurunya masih muda-muda
– yang sedang dites. Selalu terbetik keinginan untuk
sedikit ngerjain dan mempersulit guru-guru baru yang sedang tes microteahing di
hadapan kita, bukan? Aku dulu pas SMA juga begitu. Padahal di kelas aku
kayaknya termasuk golongan siswa teladan lho, hehehe…

 

Jadi begitulah. Perencanaan waktu gagal terlaksana. Dari tiga materi yang
seharusnya sudah dikuasai dalam satu kali pertemuan, mencakup pemahaman tentang
koduksi, konveksi, dan radiasi, hanya materi konduksi yang tersampaikan. Waktu
habis untuk mengendalikan para siswa pembuat onar, memotivasi keaktifan dan
partisipasi nona-nona golongan medium, dan translet bahasa.

 

Dan yang paling menyedihkan adalah kotak konveksi yang sudah kubuat
susah-susah belum sempat digunakan sama sekali! Hiks…

 

Tapi seneng lho, dapat pengalaman baru. Masalah nanti dipanggil atau enggak
kita lihat saja besok. Apa yang Alloh suka aja deh… Sukron jazakillah sudah
mau baca ceritaku ini. Ditunggu masukan dari teman-teman semua ya!